Mengenal Tipe Penghasilan di 2022
TIGA TIPE PENGHASILAN
Saya senang mengelompokkan penghasilan ke dalam tiga tipe.
1. Aktif
2. Pasif
3. Portofolio
Penghasilan Aktif
Penghasilan aktif adalah penghasilan yang kita dapatkan dengan menjual barang atau tenaga. Istilahnya menukar waktu dengan uang. Contoh penghasilan aktif:
- Gaji, kita bekerja pada orang lain atau perusahaan dan mendapatkan penghasilan setiap bulan.
- Upah, penghasilan yang dihitung berdasarkan jam kerja. Misalnya, saya sebagai trainer mendapatkan upah per jam dari sesi pelatihan yang saya ampu. Semakin banyak jam kerja kita, semakin besar penghasilan kita.
- Komisi, penghasilan yang dihitung berdasarkan kinerja tertentu. Agen properti misalnya mendapatkan penghasilan setiap kali berhasil menjual rumah.
- Laba, selisih antara harga beli dengan harga jual. Biasanya didapatkan oleh para pedagang atau orang yang menjual barang fisik.
Prinsip penghasilan aktif adalah semakin aktif kita bekerja, semakin besar potensi penghasilan kita.
Penghasilan Pasif
Penghasilan pasif adalah penghasilan yang didapatkan dari aset yang kita punya. Sekali kita punya aset, ia akan memberikan penghasilan rutin kepada kita. Contoh penghasilan pasif:
- Royalti, penghasilan yang didapatkan oleh penulis, pencipta lagu, penyanyi, dsb.
- Uang sewa, dari penyewaan apartemen, rumah, atau kos-kosan.
- Dividen, dari bagi hasil saham atau usaha.
- Bunga, dari tabungan atau deposito.
Dalam kenyataannya, tidak ada penghasilan pasif yang 100% pasif. Penghasilan pasif tetap memerlukan pengelolaan. Meskipun tentu saja waktu yang kita gunakan untuk mengelola tidak sebanyak saat kita berusaha mendapatkan penghasilan aktif.
Penghasilan Portofolio
Masih ingat bahasan capital gain di tulisan sebelumnya? Penghasilan yang didapatkan dari kenaikan nilai aset inilah yang disebut dengan penghasilan portofolio. Contoh:
- Kenaikan nilai rumah
- Kenailan nilai tanah
- Kenaikan nilai logam mulia/emas
- Kenaikan nilai saham
- Kenaikan nilai reksadana
- Kenaikan nilai obligasi
- Kenaikan nilai barang koleksi
Perhatikan, penghasilan tipe ini didapatkan ketika aset dilepas/dijual. Kenalan saya seorang tukang pijat, punya pendapatan tipe ini dari tanah. Ia mencari tanah yang strategi, menahannya beberapa tahun, lalu setelah harganya naik barulah ia jual. Hasil penjualannya ia gunakan untuk membeli tanah lain dan seterusnya. Dari sini ia berhasil menggulung aset yang lumayan. Oya, penghasilan tipe ini juga punya risiko yak. Tidak selalu nilai aset yang kita punya itu naik. Ada kalanya nilainya juga turun. Bisa dibilang, dalam investasi, risiko selalu berbanding lurus dengan potensinya.
Nah, di awal mencari nafkah, fokuslah pada penghasilan aktif dulu. Yang penting cash flow aman. Lalu, sisihkan sebagian penghasilan aktif untuk nabung portofolio (bisa dimulai dari yang kecil dulu, misalnya logam mulia atau reksadana). Nah, ketika cash flow sudah aman. Pikirkan bagaimana kita bisa bekerja lebih efisien: cari cara untuk menghemat waktu dalam bekerja. Mulai juga pikirkan potensi penghasilan pasif yang mungkin bisa kita rintis. Targetkan memiliki penghasilan pasif yang setara dengan pengeluaran bulanan kita. Dengan demikian, kita bisa bekerja tanpa mengkhawatirkan pengeluaran bulanan. Tidak mudah memang, namun insyaallah bisa diusahakan. Bagaimana dengan penghasilan aktif setelah penghasilan pasif berhasil memenuhi kebutuhan kita? Apakah dihentikan? Tidak perlu. Kita butuh bekerja untuk berkarya, berkontribusi pada orang lain, dan menjaga otak serta fisik kita tetap aktif.
Komentar
Posting Komentar