Sisi Lain Manusia : "Hallo Effect"
Halo Effect:
Kenapa kita salah pilih pasangan, karyawan sampai pimpinan
dan bagaimana agar tidak tertipu CV yang memukau
Apa itu Halo Effect?
Setiap kenaikan kelas saat sekolah dulu, saya pasti ketemu teman baru. Karena belum kenal, saya menilai kawan baru ini dari tampilan dan pembawaannya. Kalau terlihat rapi dan sopan, saya lekas berasumsi: Pasti dia juga pintar.
Kadang, Halo Effect-nya ga mutu: Hanya karena tulisannya bagus, berarti si anak ini rajin belajar. Dan berpotensi ranking 1. Minimal, cocok jadi sekretaris.
Tapi, Halo Effect paling absurd yang saya terima di masa sekolah, berkaitan dengan nama saya. Seorang teman kelas 2 SMA pernah menanyai saya menjelang pensi. “Kamu bisa main bass ga?”
“Ya enggaklah!” Jawab saya tegas. “Lagian, kenapa e kamu nanyain aku kayak gitu?”
“Lah, namamu kan Bondan. Siapa tahu jago nge-bass. Kayak Bondan Prakoso.”
Parahnya, guru pun tak kebal dari Halo Effect ini. Banyak guru yang hanya karena seorang murid tampak cerdas, kaya, dan penurut, maka Bapak/Ibu guru tidak percaya kalau si murid cakep ini nyontek atau membully kawannya.
Lalu, apa itu Halo Effect?
Saat kita menganggap kalo dia jago di bidang A, berarti jago di bidang B, itulah Halo Effect.
Saat kita mengira si C bakal jadi pengusaha sukses hanya karena dia TOP sales, itulah Halo Effect.
Saat kita berpikir si A cocok jadi ketua kelas hanya karena tampil rapi dan bisa public speaking, kita sedang kena Halo Effect.
Saat kita berpikir si Z bakal jadi suami/istri yang pengertian hanya karena dia anak orang terpandang, kita kena Halo Effect.
Saat kita mengira seorang pengusaha sukses, pasti menjadi politisi sukses, kita kena Halo Effect.
Yang perlu digarisbawahi, Halo Effect ini bukan penjahat. Dia muncul dengan niat baik: Agar otak kita tidak capek.
Bayangkan ga ada Halo Effect.
Untuk memilih ketua kelas, kita tidak bisa mengandalkan insting. Kita harus melakukan fit and proper test. Mengawasi gerak-gerik kandidat saat dia pulang sekolah, tidur, bahkan boker. Tidakkah itu melelahkan?
Halo Effect menjadi berbahaya saat kita tidak menyadarinya.
Dalam konteks membangun tim, Halo Effect sering terjadi saat proses rekrutmen. Khususnya saat membaca CV. CV yang berkilau. Katakanlah ada kandidat yang CV-nya begini:
- Lulusan PTN Favorit (Wih….)
- S2 luar negeri (WOW…)
- Pernah magang, sorry, internship di multinational company (Wahhh…)
- Memegang jabatan penting di sebuah unicorn (Widiiw…!)
Otak kita sebagai pewawancara pun langsung error. Lulusan PTN Favorit? S2 luar negeri? Pasti baguslah! Apalagi pernah jadi head di unicorn. Pasti bisa bawa perusahaanku scale up!
Padahal, merekrut jebolan perusahaan ternama, bisa membahayakan bisnis kita. Kenapa?
Pertama, alumni perusahaan besar itu terbiasa dengan kultur yang berbeda. Mereka biasa main dengan budget yang besar. Dengan organisasi yang lebih rapi. Orang seperti ini, belum tentu bisa langsung nyetel dengan perusahaan kita yang mungkin belum besar.
Ibaratnya, mereka pembalap yang udah biasa ngebut di jalan tol naik Lambo. Belum tentu bisa perform kalo disuruh nyetir Granmax di jalan perkampungan yang terjal.
Kedua, belum tentu mereka berprestasi di sana. Bisa jadi cuma nebeng nama.
Untuk itulah, kita perlu sebuah metode untuk ‘melawan’ Halo Effect ini. Sebuah cara untuk membongkar kekaguman yang tak berdasar.
Memperkenalkan, metode STAR.
Sebuah framework interview agar kita bisa menguji keaslian kemilau CV kandidat. Analoginya begini.
Pernah kerja kelompok kan?
Pasti ada aja satu anak yang sebenarnya ga ngapa-ngapain. Cuma penggembira. Ngajak becanda, bawain makanan, dan voila, namanya kita pajang di situ.
Nah, STAR ini berguna tuk menyingkap tabir kekaguman akibat “Halo Effect” tadi. Setelah menguasai STAR ini, Anda takkan lagi silau: “Iya sih pernah kerja di perusahaan besar. Tapi apa prestasinya?”
STAR singkatan dari Situation, Task, Action, Result. Situasi, tugas, aksi, dan hasil. Ingat-ingat rumus ini saat interview/ membaca CV.
Daripada hanya komentar,”Oh, pernah jadi marketing di XYZ ya?” Gali lebih dalam dengan STAR. Situation, task, action, result. Pertama, kita gali “Situation”nya.
"Ceritain dong. Suasana kerja di sana gimana. Timnya seumuran apa gimana, heboh apa serius, dan apa yang kamu suka saat di sana."
Kandidat pun menjawab. Kita tanya lagi. Menggali huruf T. Task. "O gitu. Apa aja peran dan tugasmu saat di posisi itu?"
Kandidat menjawab lagi. Kita timpali dengan tahap berikutnya. Action. "Apa aja yang kamu lakuin untuk menyelesaikan tugas?"
Kandidat pun menjawab. Dan kita tutup dengan huruf terakhir. R. Results. Kita tanya hasil. "Terus, apa hasilnya?"
Selamat. Anda sudah menanyakan S.T.A.R.
Tapi, jangan puas dulu.
Itu baru STAR ronde pertama. Baru sekedar meraba pengalaman kandidat. Sekarang masuk STAR ronde kedua. Menanyakan situasi yang lebih relevan dengan perusahaan kita.
Katakanlah, di perusahaan kita lagi ada case budget marketing yang terbatas. Kita tanya deh. "Pernah ga kamu ngalamin dipush target tinggi, tapi budget terbatas?"
Kalau kandidat menjawab iya, gunakan kembali rumus STAR. Gali situasinya (Contoh: Tanya seberapa terbatas budgetnya. Seberapa tinggi targetnya).
Lalu, gali Task-nya. (Kamu ditargetin apa? Peranmu sebagai apa?)
Ketiga, gali Action-nya. (Apa aja yang kamu lakuin agar hemat budget?)
Terakhir, tanyakan Result-nya.
Clear ya?
"Kalo kandidat belum ada pengalaman kerja, gimana?"
Ya tanyain aja kehidupan perkuliahan/ sekolah dia gimana. Saat jadi aktivis sebuah organisasi, dia jadi apa. Tugasnya apa. Action-nya apa. Result-nya apa.
Kalo dia anak rumahan, gimana?
Ya tanyain aja. Dia di rumah ngapain aja. Ada situasi seperti apa.
Kalo masih bingung, berikut ada 10 pertanyaan yang bisa bikin kita lebih kenal kandidat. Ini pertanyaan pancingan. Gali lebih dalam dengan STAR.
10 Pertanyaan untuk Menggali Karakter, Lebih dari CV
1. Pernah konflik dengan sesama rekan kerja, gimana kamu menyelesaikannya?
2. Pernah melihat atasan melakukan kesalahan? Apa yang kamu lakukan?
3. Gimana kamu menghadapi perubahan mendadak di kantor?
4. Ceritakan momen-momen kamu melakukan kesalahan di kantor.
5. Apa prestasi terbesar Anda saat diamanahi jabatan X?
6. Kadang atasan ngasih terlalu banyak kerjaan ke staf. Gimana kamu menghadapinya?
7. Pernah terpaksa mengambil posisi leader di tim?
8. Bisa share pengalaman saat ga achieve target?
9. Bisa ceritakan momen kamu harus bikin keputusan yang membuatmu dibenci temen-temen?
10. Bisa ceritakan momen-momen kamu bener-bener stres di kerjaan, sampe rasanya pengen resign?
***
Happy weekend!
Bondan Satria Nusantara
Komentar
Posting Komentar