Tips Management Waktu Di 2021

Tujuan dari manajemen waktu adalah ketenangan batin. Setidaknya itulah yang disampaikan oleh pak Hyrum W. Smith di dalam bukunya. Gambarannya dapat dilihat di piramida yang saya lampirkan

Begini penjelasannya. Banyak orang mengalami konflik batin karena apa yang ia lakukan sehari-hari (daily activities) bertentangan dengan nilai-nilai yang ia anggap baik, penting, dan bermakna (values). Bentuknya bisa dua macam:

1. Mereka tidak suka dengan apa yang mereka lakukan, namun mereka tetap melakukannya.
2. Mereka tahu apa yang ingin (atau seharusnya) mereka lakukan, namun mereka tidak melakukannya.

Mari kita bahas poin pertama. Berapa banyak orang yang tidak suka dengan apa yang mereka lakukan tetapi tetap melakukannya? Tidak suka dengan pekerjaan yang mereka miliki saat ini, tapi tetap bertahan di sana. Tidak suka dengan kebiasaan buruknya, namun mereka tetap melakukannya. Kondisi seperti ini akan menimbulkan pertentangan di dalam batin mereka. 

Sementara itu, di poin kedua - berapa banyak orang yang tahu apa yang ingin mereka lakukan namun mereka tidak melakukannya. Mereka sadar apa yang penting dan bermakna dalam hidup mereka, namun hal ini tidak tercermin dalam kegiatan sehari-hari mereka. Ada yang ingin jadi penulis, tapi tiap hari tidak pernah menyempatkan waktu untuk menulis. Ada yang berkata keluarga itu nomor satu, tapi sedikit sekali waktu berkualitas yang mereka berikan pada keluarganya. Ada yang tahu belajar ilmu agama itu penting, namun boro-boro setiap hari belajar, sebulan sekali menyimak kajian pun sudah luar biasa. Hal-hal seperti ini membuat kita inkongruen - tidak selaras. Kita mengalami pertentangan batin, membuat diri kita tidak utuh.

Meskipun wujudnya berbeda, pola mereka tetap sama. Mereka tidak mau bertanggungjawab terhadap kehidupan mereka. Mereka cenderung melimpahkan tanggungjawab ke pihak lain. Menyalahkan hal-hal di luar kendali mereka. Mungkin mereka tidak sadar, mereka hanya berkata:

"Nanti kalau sudah punya waktu luang lebih banyak, aku baru akan mulai menulis..."
"Nanti kalau bisnisku sudah mulai stabil, barulah aku akan luangkan waktu lebih banyak buat keluarga..."
"Pengin sih resign dari sini, aku udah muak sama pekerjaan di sini, tapi aku nggak bisa ngelakuinnya sekarang... nanti lah, kalau nggak ada perubahan setahun ke depan baru aku resign..."
"Aku pengin mulai belajar agama, tapi nanti lah, kalau kerjaan udah mulai nggak terlalu berat aku akan mulai..."

Ini adalah bentuk melimpahkan tanggung jawab ke pihak luar. Mengapa kita tidak berkata:

"Menulis bukan hal yang penting saat ini, makanya aku belum mulai menulis."
"Keluarga bukan hal yang penting bagiku saat ini, bisnis lebih penting."
"Resign bukan hal yang penting bagiku saat ini, aku masih mau bertahan di sini."
"Belajar agama bukan hal yang penting saat ini... dst"

Pertanyaannya, berani kah kita jujur pada diri sendiri?

Melanjutkan bahasan sebelumnya, keselarasan antara apa yang kita anggap penting dan bermakna dengan apa yang kita lakukan adalah kunci ketentraman batin. Maka, kita perlu jelas dengan apa saja yang kita anggap PENTING dan bermakna dalam hidup kita. 

Nah, di sini lah kemudian banyak orang terjebak. Banyak orang tidak bisa membedakan antara hal PENTING dengan hal URGEN (mendesak). Kita menganggap semua yang urgen itu penting. Padahal, tidak semua yang urgen itu benar-benar penting. Pak Dwight Eisenhower bahkan mengatakan:

"Sebagian besar hal mendesak itu tidak penting, dan sebagian besar hal penting itu tidak mendesak."

Namun, pikiran kita rancu dan tidak bisa membedakan keduanya hingga akhirnya kita hanya menghabiskan waktu untuk mengerjakan hal-hal yang mendesak dan menunda hal-hal yang benar-benar penting.

Sebenarnya apa bedanya sih? Hal PENTING adalah hal yang bermakna bagi kita, hal yang bila kita melakukannya maka akan berdampak signifikan pada tujuan jangka panjang kita. Biasanya hal-hal penting tidak memiliki tenggat waktu yang pendek, tenggat waktunya sangat panjang sehingga nampak seperti tidak punya tenggat waktu. Sementara hal URGEN adalah hal-hal yang memiliki tenggat waktu dan biasanya diiringi oleh tekanan dari pihak lain (desakan bos, klien, tetangga, teman kerja, dsb), ada paksaan dari faktor eksternal ini membuat kita mempersepsikan hal ini sebagai hal yang penting.
Bila kita kaitkan dengan bahasan kemarin, hal penting adalah hal yang terkait dengan tujuan jangka pendek, visi, dan nilai-nilai yang kita anggap penting. Bila kita menghargai kesehatan, maka olahraga dan pola makan sehat adalah bagian dari hal penting. Bila kita menghargai masa depan kita, maka merencanakan masa depan adalah bagian dari hal penting. Bila kita punya cita-cita menjadi penulis buku, maka menulis adalah bagian dari hal penting. Hal-hal penting adalah PRIORITAS dalam hidup kita.

Pertanyaannya, apakah kita sudah meluangkan waktu untuk mengerjakan hal-hal penting ini? Atau kita hanya menunggu waktu luang untuk mengerjakannya? Atau bahkan kita beralasan bahwa kita tidak punya waktu untuk melakukannya?

Kita punya 24 jam sehari, 168 jam per pekan. Semua orang punya waktu yang sama. Berapa banyak dari 168 jam yang kita luangkan untuk mengerjakan hal-hal yang menjadi prioritas kita?

Maka, kunci untuk hidup selaras ada dua:
1. Kenali hal-hal penting dalam hidup kita, lalu luangkan waktu untuk melakukan hal-hal penting ini.
2. Kenali hal-hal yang tidak penting dalam hidup kita. lalu pikirkan cara untuk menghilangkan atau minimal menguranginya.


#produktivitas
#makna

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kekuatan Warna Ungu Menurut Psikologi, Feng Shui, Ilmu Aura Tubuh, Hingga Berbagai Budaya di Dunia

Rahasia Kenapa Orang Keturunan Chinese bisa Lebih Kaya.

Panduan untuk berjualan di FB ADS